Tentang Kamu – Tere Liye


Picture: https://referensibukubagus.wordpress.com
Sudah lama buku ini berada dalam lemari buku rumah, adik kami nan membelinya. Setahu kami ini merupakan roman karangan Tere Liye tertebal nan pernah kami temui. Sempat beberapa kali adik-adik kami bertanya “Apakah sudah tuan baca roman Tere Liye itu..?” setahun lebih mungkin, atau mungkin sahaja sudah dua tahun.
Akhirnya, roman dengan sampul aneh itu kami baca jua. Dahulu tatkala pertama mendapatinya, kami pernah membaca sekilas. Sempat memancing rasa ingin tahu lalu akhirnya kami balik ke halaman belakang. Biasanya, apabila sudah kami baca bab terakhir dari sebuah roman maka akan terang semuanya, namun kali ini berlainan, bertambah bingung kami dibuatnya. Akhirnya – karena gemas – kami kembalikan ke rak di lemari buku.

Berkisah perihal seorang lelaki Indonesia yang menjadi pengacara salah satu kantor hukum terkenal – lebih tepatnya berpengaruh dan disegani di Benua Eropa atau mungkin dunia – di London. Ia mendapat tugas penting menangani perkara harta kekayaan salah seorang klien mereka yang misterius. Klien tersebut seorang perempuan umur 70 tahun, wafat di Paris yang meninggalkan harta sebesar satu miliar poundsterling[1].
Tanpa anak, tanpa kerabat, membuat Zaman Zulkarnaen atau biasa dipanggil Zaman – demikian nama pengacara muda tersebut – menyusuri satu-persatu jejak sang klien semenjak ia dilahirkan hingga meninggal.
Sri Ningsih – demikian nama klien tersebut – berkewarganegaraan Inggris namun berdarah Indonesia dan meninggal di Paris. Lahir di Sumbawa, menjalani masa remaja di Jawa, menapaki masa dewasa di Jakarta, hidup matang di London, dan menghabiskan masa tua di Paris.
Kami tidak akan menceritakan isi roman ini, karena untuk mengetik tulisan ini sahaja hati kami sudah tidak kuat – beberapa kali jeda dengan entah berapa batang rokok yang dihabiskan -. Beberapa bab pada roman ini kami lewatkan membacanya karena tak kuat hati kami. Terutama pada bab-bab yang mengisahkan kehidupannya di pondok pesantren di Surakarta pada masa 1960an. Sri Ningsih menjadi saksi hidup sekaligus korban kekejian Pemberontakan Komunis pada masa tahun 1965.
Bab-bab yang kami baca penuh ialah kisah hidupnya di London hingga kisah dalam roman berakhir. Bab-bab penuh perjuangan, cinta, pengorbanan, persahabatan, dan persaudaraan. Pada bab-bab tersebut kami bersyukur karena akhirnya Sri berhasil menemukan cintanya, ya dia sangat.. sangat.. sangat.. berkali-kali sangat pantas ia dapatkan. Di usianya yang ke-34 tahun ia mendapatkan kehangatan keluarga yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Perlindungan dari seorang ibu dan ayah, kasih dari adik-adik, dan perhatian dari paman dan bibi, serta mendapatkan cinta.
Pada usia ke-36 tahun ia mendapatkan lelaki yang begitu mencintainya, rela berkorban dan melakukan apa sahaja demi dirinya. Ya, dia sangat bahkan lebih dari pantas mendapatkannya.
Kami tidak akan meneruskan, karena terus terang kami tak sanggup. Sebab kesedihan dan penderitaan agaknya telah menjadi kawan karibnya. Ya tuan, lepas itu telah menanti penderitaan lain, layaknya kawan karib yang telah lama tak bersua. Dan sekali lagi ia menunjukkan keperkasaan dirinya, kekuatan dan kemuliaan hatinya.
Kami berharap dapat memiliki hati seperti yang dimiliki Sri dan juga Hakan..

Banyak yang berubah tatkala mendapat ujian
Banyak yang marah tatkala mendapat begitu banyak cobaan
Namun disana, para pejuang Allah tetap percaya dengan kebaikan
Mereka tak mengubah haluan, melainkan justeru memantapkan arah kemudi
Orang mulia yang diberi kakayaan hati nan melimpah..
__________________________________
Catatan Kaki:
[1] Mata uang Kerajaan Inggris

Komentar