Picture: https://www.amazon.com
Aladdin, akhir-akhir ini ramai diperbincangkan setelah film live actionnya dirilis, dimana filem Disney ini berhasil menyingkirkan Jhon Wick 3 dan menguasai box office dalam tiga hari penayangannya. Bagi yang baru pertama kali menonton, mereka pasti akan sangat menikmati namun berlainan dengan generasi 80 & 90an, mereka memiliki Aladdin versi kartun yang dibuat pada tahun 1992 dalam kenangan mereka.
Banyak kritikan pada versi live action ini, seperti perubahan karakter Putri Jasmine yang lebih feminis yang membuat karakter Aladdin sebagai tokoh utama menjadi tertutupi. Boleh dibilang Jasmine lebih banyak mendapat simpati sepanjang cerita sehingga tampaknya Jasminelah tokoh utama dari filem ini. Dari segi kostum, Aladdin dinilai kalah dari kekasihnya Jasmine yang mendapat kostum lebih baik.[1]
Belum lagi pemilihan para aktor yang juga dikritik oleh para penggemar. Semula pemeran Putri Jasmine akan benar-benar dipilih dari para aktor asal Timur Tengah. Pemilihan Naomi Scott yang campuran India-Inggris dinilai melenceng oleh sebagian penggemar.
Namun pada tulisan ini kami tidak akan membahas mengenai sisi sinematik dari filem tersebut namun lebih kepada cerita. Dimana kami juga membaca beberapa tulisan yang mengkritik alur cerita. Salah satunya yang membuat kami terpana ialah sumber yang mengatakan kalau tokoh Aladdin pada cerita versi sebenarnya berasal dari Cina[2] namun dengan seluruh karakter bernama Arab. Ia yatim, bukan sebatang kara seperti yang terdapat pada filem Disney.[3]
Kami teringat dengan filem Aladdin yang dibuat pada tahun 1980an di Indonesia. Pada filem tersebut dikisahkan kalau Aladdin bukanlah seorang pencuri dan tidak memiliki teman seekor monyet. Aladdin seorang yatim yang tinggal dengan ibunya. Kemudian datang seorang penyihir yang berpura-pura menjadi pamannya yang bermaksud memanfaatkan Aladdin untuk masuk ke dalam gua untuk mengambil Lampu Wasiat. Dia jatuh cinta pada putri Sulthan yang bernama Permatasari namun mendapat saingan dari Musthafa, anak dari Perdana Mentri Ja'far. Mengenai nama sang putri memang telah menjadi kontroversi sedari awal karena pada versi aslinya diduga bernama Badr al Budur yang berarti Purnama dari Purnama.
Seperti kata pepatah orang Melayu, kembalikan pinang ke tampuknya. Maksudnya kita kembali ke sumber pertama, seperti apakah cerita dari kisah aslinya yang berbahasa Arab itu? Karena apabila telah dilakukan adaptasi maka akan dilakukan penyesuaian oleh yang melakukan adaptasi. Apalagi jika dilakukan lintas budaya, biasnya tentu akan lebih besar.
Dari salah satu tulisan yang dibuat oleh mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada dimana mereka melakukan pembandingan pada dua sumber. Sumber pertama berjudul The Story of "Ala ed Din and the Wonderful Lamp" Stories from the Thousand and One Nights. The Harvard Classics. 1909-14. http://www.bartleby.com/ 16/901.html yang menjadi pembanding bagi cerita animasi Aladdin yang dibuat pada tahun 1992 oleh Disney.
Tulisan mereka lebih menitik beratkan kepada nama dua tokoh utama yang telah diubah yakni Aladdin (Ala ed Din) dan Jasmin (Badr al Budur), kemudian pada alur cerita yakni anak yang berbakti dan giat berusaha melawan anak sebatang kara, pencuri dan berkawan dengan seekor monyet.
Namun yang lebih terasa ialah sisi religius dari sosok Aladdin sendiri dihilangkan, sedangkan dari namanya sudah tercerminkan kalau ia adalah seorang anak yang taat. Aladdin pada versi asli ialah seorang muslim yang taat berlainan dengan versi kartun ataupun real action yang tidak diketahui apa agamanya (atau setidaknya kita hanya bisa mengira-ngira).
Kemudian kami juga mendapat sebua tulisan dari seorang kompasianer yang mengisahkan pengalamannya semasa SMA yang membaca kisah asli Aladdin dari buku Seribu Satu Malam Jilid 1 yang halamannya berjumlah 500 helai. Sangat banyak terjadi perubahan Aladdin versi Seribu Satu Malam dibandingkan Aladdin versi Disney. Yang paling mencolok ialah dihilangkan Khalifah Harun Al Rasyid yang menjadi kebanggan Peradaban Islam serta yang sangat mengejutkan ialah ternyata Aladdin berpoligami, ia memiliki tiga orang isteri. Dan dari ketiga orang isterinya, Jasmine bukanlah seorang puteri melainkan seorang budak paling cantik se Arabia dan Persia.[4]
Sebenarnya masih banyak lagi ketidak sesuaian pada filem Aladdin baik yang kartun maupun real action. Namun setidaknya berdasarkan kesaksian Evelyn Alsultany salah seorang ahli sejarah dan budaya Arab di Amerika dimana ia diminta untuk menjadi konsultan pada pembuat filem Aladdin real action ini menunjukkan sudah ada itikad dari beberapa senias Hollywood untuk memberi lebih sedikit ruang kepada Islam dan untuk itu filem Alladin real action ini patut untuk kita apresiasi.
_____________________________
[1] Lihat lebih lanjut di https://mariviu.com
[2] Apakah kebudayaan Cina mengenal Jin? setahu kami dalam menyikapi kejadian diluar logika mereka sering mengaitkan dengan "Siluman", para dewa, ataupun Sang Budha.
[3] Lihat lebih lanjut Mundi Rahayu, dkk. Pergeseran Nilai Nilai Islam dalam Cerita Aladdin: Perbandiangan “Arabian Nights” dan Filem Animasi Disney. Pasca Sarjana UGM. Atau silahkan klik disini untuk mengunduh.
[4] Lihat lebih lanjut https://www.kompasiana.com
_______________________________
Baca juga:
Mundi Rahayu, dkk. Pergeseran Nilai Nilai Islam dalam Cerita Aladdin: Perbandiangan “Arabian Nights” dan Filem Animasi Disney. Pasca Sarjana UGM. Atau silahkan klik disini untuk mengunduh.
https://theconversation.com/profiles/evelyn-alsultany-720086https://www.kompasiana.com/farisnugraha9300/5ce6b30795760e184e4e6562/menakar-kisah-aladin-anta-versi-asli-dengan-versi-disney?page=2
http://movieden.net/berita-rilis-tampilan-pertama-aladdin-tuai-kritikan/
https://www.tribunnews.com/section/2019/02/12/netizen-kritik-keras-penampilan-pertama-will-smith-menjadi-genie-di-live-action-aladdin
https://mariviu.com/review-film-aladdin-2019/

Komentar
Posting Komentar