Burlian - Tere Liye

Picture: Here
Picture: Here
Beberapa bulan nan silam kawan kami membelikan sebuah roman karangan Tere Liye untuk anaknya, roman itu berjudul Amelia. Dia bertanya perihal beberapa kata yang menurutnya serupa dengan bahasa Jawa, lalu kami jawab sedapat kami. Terkenang dengan roman nan berjudul “Pulang” karangan pujangga nan sama kamipun bertanya “Dimanakah kejadian dari cerita roman itu rangkayo?” tanya kami padanya.
Diapun ragu kemudian menjawab “Mungkin di Pasaman, kalau dilihat dari ceritanya..” kami agak ragu dengan jawapan tersebut dan berniat membeli roman itu untuk dibaca.

Beberapa pekan nan silam kami tanyakan kepada adik bungsu kami nan gemar dengan roman karangan Tere Liye “Sebenarnya ada tiga roman nan lainnya tuan, Amelia ialah roman nan keempat, nan terakhir..”
“Adakah pada dinda roman tersebut?” tanya kami penuh harap
“Ada, lengkap keempat-empatnya..” jawab adik kami senang
“Ah, dapatkan tuan pinjam untuk dibaca?” tanya kami dan pada malam harinya keempat kitab roman itu diserahkan oleh adik kami kepada kami. Walau telah berselang beberapa pekan nan silam, baru kemarin roman pertama nan berjudul Burlian dapat kami baca.
Rupanya keempat roman tersebut diberi judul sesuai dengan nama anak-anak dalam keluarga tersebut. Kami yakin tempat berjalannya cerita ialah pada salah satu negeri di Sumatera Selatan. Wajarlah kawan kami mengira kalau tempat berjalannya cerita ialah pada salah satu negeri di Minangkabau ini karena memang terdapat beberapa kata yang serupa dengan yang dipakai di sini. Maklumlah, kawan kami ini bukan orang Melayu.
Pada roman ini Tere Liye mengisahkan kehidupan seorang anak lelaki yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sangatlah nyinyir, hendak tahu segalanya, tiada penurut, suka membuat gaduh, dan membuat pening kedua ibu-bapanya, maklumlah kanak-kanak lelaki. Namun disebalik itu Burlian merupakan anak nan penyayang, sangat perhatian kepada kawan dan orang disekitar, mudah bergaul, dan memiliki daya khayal yang tinggi.
Membaca kisah Burlian pada roman ini membuat kami kembali terkenang dengan masa kanak-kanak di kampung dahulu. Belum banyak kendaraan bermotor, masuk perak dan keluar perak bermain bersama kawan-kawan, bahkan sempat pula bermain-main di kaki bukit di dekat kampung kami. Kampung kami dan Burlian sama-sama berada di kaki Bukit Barisan.
Tidak hanya keserupaan letak namun juga mungkin ada beberapa perangai kami nan sama. Sama-sama suka dengan buah durian pula, suka dengan senapan angin dan berharap dapat memainkannya, dan suka merajuk apabila keinginan tiada dituruti. Bedanya banyak pula, di kampung kami tiada stasiun kereta, kami tiada pandai dalam pelajaran, ayahanda kami tiada memiliki senapan angin, tidak pandai membersihkan ayam nan hendak dimakan, dan masih banyak lagi.
Roman ini mengisahkan dunia kanak-kanak nan masih sehat, belum terpengaruh teknologi, dekat dengan alam, jauh dari polusi, nilai-nilai agama nan masih kuat, kebersahajaan, dan keluguan masyarakat kampung. Hal mana pada masa sekarang sangat payah tersua oleh kita dalam kehidupan.
Sungguh engku Tere Liye memang pandai mengarang dan paham betul keadaan daerah nan dikisahkannya. Dimanakah kampung asal Engku Tere Liye ini? Adakah nan dapat memberi tahu kami?

Komentar