Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin

 


Judul: Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 264 Halaman
______________________________
Begini, bagi pria, dan itu sama sahaja dengan kebanyakan perempuan, menikah tidak selalu harus dengan seseorang yang engkau cintai. Menikah adalah pilihan rasional. Berkeluarga untuk lelaki posmodern seperti dia, tidak semata-mata urusan cinta-mencintai.. Yang tidak rasional dalam urusan ini adalah ada yang tidak konsisten dengan dia.. lihatlah, bukankah dia dewasa sekali. Dia begitu matang. Orang seperti itu jarang impulsif dalam urusan ini, kan? Jadi, bagaimana mungkin dia tiba-tiba enggan berbicara dengan Kak Ratna selama enam bulan terakhir? Kenapa? Apa alasannya?
Anne, hal 213 – 214

Entah kenapa hati kami tertarik membaca roman nan satu ini, entah telah berapa tahun tersimpan di lemari buku. Dibeli oleh adik kami, dan kami yakin ia telah membacanya. Tatkala membaca halaman pertama kami merasa roman ini mengisahkan perihal hati nan terluka, dan memang demikian adanya. Satu perkiraan kami yang meleset yakni perihal tokoh utamanya yang kami harapkan seorang lelaki, rupanya tidak.


Mengisahkan perihal cinta yang tumbuh diantara dua orang denga jarak usia 14 tahun. Sang lelaki jatuh cinta pada gadis kecil berusia 12 tahun dimana pada saat itu umurnya telah menapaki 25 tahun. Cinta yang tak kuasa ditolaknya yang kemudian menghancurkannya di usia 37 tahun.

Sekali lagi Tere Liye menggambarkan betapa kejamnya cinta, menghancurkan tak hanya satu orang melainkan tiga orang sekaligus. Seorang lelaki yang membunuh rasa cinta yang terus tumbuh di kalbunya, namun justeru perasaan itu semakin membesar dan menguat yang membuat dia melukai perempuan lain.

Seorang gadis kecil yang tumbuh dengan cinta pertamanya yang semakin menguat tiap detik. Memelihara perasaan itu, terluka karenanya, dan berusaha membunuhnya. Seorang perempuan yang mencintai laki-laki yang tak dicintainya, berharap dengan kehangatan yang diberikannya dapat meluluhkan hati sang lelaki namun kemudian ia mesti menerima kenyataan bahwa tak ruang di hati si lelaki itu untuk dirinya.

Roman ini mengisahkan perihal dua hati yang tak melulu diisi kisah romantis yang memabukkan. Kisah yang kami yakin juga terjadi di kehidupan nyata. Setidaknya perkembangan kejiwaan dua orang anak manusia bersama kisah cintanya digambarkan dengan baik disini. Dan betapa lelaki justeru lebih rapuh dari perempuan apabila sudah menyangkut perkara cinta-mencinta ini.

Akhir dari roman ini sangat kami benci, para pembaca disuruh berkhayal sendiri tentang sikap si lelaki mengenai cinta dan tanggung jawab yang ditanggungnya. Siapakah yang patut untuk dikasihani?

Si lelaki, kah?

Gadis kecil yang telah menjadi perempuan tangguh itukah?

Atau, isterinya yang sedang mengandung empat bulan dan kini tinggal di rumah orang tuanyakah?

Komentar