Filem Negeri Van Oranje

Filem ini diluncurkan pada tahun 2015, kalau tidak salah sembilan tahun setelah romannya dibaca banyak orang. Dahulu, tatkala membaca roman ini kami berada di tahun akhir perkuliahan kami. Judul nan aneh dengan sampul nan menimbulkan tanda tanya. Dari judulnya, kami berkesimpulan bahwa kisahnya tak jauh dari Si Kompeni.
Bahasa nan dipakai dalam buku ialah bahasa gaul, ringan, serta memancing rasa ingin tahu, serta disisipi dengan beberapa saran bagi pelajar asal republik ini nan berada dan hendak ke Negeri Tanah Rendah itu. Semakin dibaca, semakin bergelora hati ini, maklumlah tuan kami berkuliah di jurusan Tarikh[1]. Seorang kawan semasa berkuliah dahulu pernah bergurau “Bagi para sejarawan, Belanda itu sudah serupa tanah suci. Karena sumber penulisan sejarah negeri kita tersimpan disana..”

Dan benar, hampir semua kami sangat mengidam-idamkan dapat menginjakkan kaki ke Negeri Kompeni itu. Mengunjungi pusat arsip mereka, membalik-balik kertas usang itu, serta menjelajahi negeri mereka nan kecil namun dapat mengusai negeri berkali-kali lipat dari negeri mereka.
Akhirnya, kami khatamkan membaca roman itu dengan perasaan gundah, amat sangat berkeinginan ke Belanda namun tiada daya sebab bayang-bayang tak sepanjang badan. Kami benci sekaligus suka dengan roman nan satu ini.
Tatkala menonton filemnya, hati kami sudah mengingatkan “Usah ditonton jua, nanti bertambah remuk hati itu..”
Namun rasa ingin tahu mengalahkan kami. Kami tonton, dan Alhamdulillah, tak serupa nan kami bayangkan. Terdapat beberapa hal nan tak serupa di roman, serta alur cerita, penggambaran, dan lain sebagainya nan disesuaikan serupa keinginan sang pembuat filem.
Filem ini bagus, namun mesti berhati-hati karena terdapat beberapa pesan nan diselipkan pada filem ini. Tak kentara, namun mesti diperhatikan karena ianya sangat halus sekali. Mesti dibaca kembali romannya agar tidak salah faham.
Samalah kiranya menonton filem ini serupa menonton filem Ayat Ayat Cinta. Setidaknya itu penilaian kami, masing-masing kita tentu memiliki penilaian nan beragam.
____________________________
Catatan Kaki:
[1] Berasal dari Bahasa Arab yang berarti Sejarah, sedangkan kata “Sejarah” juga berasal dari Bahasa Arab yang berarti pohon atau garis silsilah.

Komentar