[caption id="" align="aligncenter" width="650"]
Picture: https://www.tokopedia.com[/caption]
Judul: Kau, Aku, & Sepucuk Angpao Merah
Pengarang: Darwis Tere Liye
Penerbit: Kompas Gramedia
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 512 halaman
______________________________________________
Picture: https://www.tokopedia.com[/caption]Judul: Kau, Aku, & Sepucuk Angpao Merah
Pengarang: Darwis Tere Liye
Penerbit: Kompas Gramedia
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 512 halaman
______________________________________________
Harus kami akui kembali kalau roman nan ditulis oleh pujangga nan satu ini telah berhasil memikat hati kami. Betapa tidak, kebanyakan latar cerita dari setiap roman nan kami baca selalu berlatar Bandar Betawi atau bandar-bandar lain di Pulau Seberang, namun pada roman nan satu ini nan menjadi latar tempat kejadian kisah cinta itu ialah sebuah bandar yang menjadi ibu negeri bagi Kalimantan Barat.
Terus terang, semenjak remaja membaca roman kami telah jenuh dengan kisah nan berlatar bandar-bandar yang sama, seolah-olah tak ada bandar lain di republik ini, tak ada negeri lain di republik ini, dan tak ada pulau lain di republik ini. Dan kini kami sangat menikmati, sekaligus menambah pengetahuan kami tentang sebuah bandar yang namanya rupanya berasal dari nama salah satu hantu dalam legenda rakyat.
Roman ini mengisahkan percintaan antara tiga orang yang saling berhubungan semenjak mereka berusia 12 tahun. Borno atau Borneo seorang pemuda tamatan SMA namun memiliki otak yang licin, perangai yang santun, dan tabi'at yang lurus. Mei seorang gadis yang berwajah sendu dan baik hati, serta Sarah seorang gadis yang periang, mudah bergaul, dan juga bertabi'at lurus.
Membaca kisah mereka membuat kami terkenang dengan Si Doel, Zainab, dan Sarah dalam Si Doel Anak Sekolahan. Tentunya dengan banyak perbedaan, hanya terkenang sahaja.
Akhir roman dibuat menggantung, kita tak tahu bagaimana akhir dari percintaan mereka bertiga. Apakah Borno menikah dengan Mei? dan bagaimana dengan nasib Dokter Sarah yang baik hati itu, bukankah ia juga mencintai Borno?
Gemas sebenarnya namun kami tak menyangkal akhir cerita nan demikian justeru menawan.
Silahkan membaca tuan, banyak pelajaran yang dapat diambil dalam kisah ini. Bagaimana kehidupan masyarakat di bandar tersebut? tentang alat angkut sepit yang menjadi andalan di bandar yang terkenal dilalui dua sungai besar itu. Tentang ketabahan, kesabaran, perjuangan, tak menyerah pada takdir, kebesaran jiwa, kelapangan hati, kepercayaan dan pengorbanan.
Satu lagi nan membuat roman percintaan ini berbeda, kalau roman lain selalu menggambarkan dua insan nan dimabuk asmara menikmati hari di cafe, naik mobil, atau saling berbalas kemesraan. Pada roman ini dikisahkan bagaimana dua orang insan ini begitu sederhana walaupun sang gadis berasal dari keluarga berharta. Tada pegangan tangan apalagi kecupan. Demikianlah kisah percintaan dari daerah yang jauh dari pengaruh kehidupan glamor bandar besar. Serupa itu pula di negeri kami, dahulunya..
Satu pertanyaan kami nan belum terjawab, dimanakah kampung Tuan Tere Liye ini sesungguhnya? pandai betul ia membangun ruh sebuah kisah, seolah-olah ia ikut tinggal dan dibesarkan di sana..
Selamat membaca tuan..
Komentar
Posting Komentar