| Judul | : | Bung Hatta menceritakan masa kanak-kanaknya di Sumatera |
| Pengunduh | : | Ryan Paat |
| Tanggal | : | 1 September 2018 |
| Jenis | : | Warna |
| Durasi | : | 3:10 Menit |
| URL | : | https://www.youtube.com |
Bahasa Melayu (Indonesia)
Tidak menyenangkan, hal tersebut dimulai di masa kanak-kanakku dengan seorang teman, sepupu kakekku. Ada kerusuhan di Kamang saat itu, yaitu di suatu tempat di Sumatra Barat. Kamang adalah sebuah desa (nagari) sekitar 15 km dari Bukittinggi. Masyarakat di sana menentang pengenalan sistem pajak. Bekas Sistem Tanam Paksa dihapuskan tetapi dilanjutkan dalam bentuk di mana penduduk harus mengirimkan produk ke pemerintah Belanda. Hal tersebut berubah menjadi pajak. Penduduk menolak dan memberontak, hal tersebut tidak berlangsung lama. Orang-orang yang tidak bersenjata tidak dapat memulai apa pun melawan Pemerintah Belanda, melawan angkatan bersenjata.
Dan kemudian suatu malam, seorang teman, saya pikir sepupu kakek saya, seorang pedagang hasil hutan, ditangkap dan dikirim ke Padang. Jalan Kereta api membentang di depan rumah saya, dan saya telah melihatnya. Sekarang, hanya rumah yang telah hilang, saya berjalan ke sebuah jembatan kecil di mana saya bisa duduk dan saya melihatnya di atas gerbong kereta api menuju Padang. Itu adalah pengalaman kolonial pertama saya.
Tidak, mereka jelas tidak dicintai. Selalu ada perbedaan antara putih dan cokelat. Istilah "putih dan cokelat" telah diperkenalkan oleh Belanda. Segala sesuatu yang berwarna coklat jelek menurut sebuah buku teks. Itu sangat jelas dalam Buku Teks untuk Bahasa Belanda. Penulisnya, saya percaya, Kroes. Penduduk asli malas, berpikiran dalam, dan sebagainya. Kata-kata yang sangat jelek. Dalam permohonan saya di hadapan pengadilan Belanda, saya mengatakan sesuatu tentang itu.
Karena kita membaca sejarah, kita mendapat gambaran realitas yang berbeda. Kita membaca sejarah Perusahaan India Timur dan Sistem Budaya dan sebagainya. Belanda datang ke sini semata-mata karena kepentingan pribadi.
_____________________
Belanda
Niet prettig. Het begon al in mijn jeugd met een vriend, een neef van mijn grootvader. Er was toen een relletje in Kamang, dat is ergens op West Sumatra. Kamang is een dorp op ongeveer 15 Km van Bukittinggi. Daar was de bevolking tegen de invoering van het belastingstelsel. Het vroegere Cultuurstelsel was afgeschaft maar toch voortegezet in een vorm waarbij de bevolking produkten moest leveren aan de Nederlandse regering.
Dat werd veranderd in een belasting. De bevolking verzette zich en kwam in opstand. Dat heft niet lang geduurd. Het ongewapende volk kon tegen de Nederlandse regering tegen de gewapende troepen niets beginnen.
En toen, op een avond, werd een vriend, ik dacht een neef van mijn grootvader een handelaar in bosprodukten, opgepakt en naar Padang gestuurd. Ik heb hem voorbij zien komen. Voor mijn huis liep de spoorweg. Nu nog. Alleen is he huis weg. Ik he been bruggetje gezocht waar ik op kon zitten en ik heb hem voorbij zien rijden naar Padang. Dat was mijn eerste koloniale ervaring.
Nee, geliefd waren ze zeker niet. Er was altijd een contrast tussen blank en bruin. De term “blank en bruin” is door de Nederlanders ingevoerd. Al wat bruin was, was lelijk volgens een leerboekje. Heel duidelijk was dat in het Leerboek voor de Nederlandse Taal. De schrijver was, meen ik, Kroes. Daarin waren de inlanders lui, diefacthtig enzovoors. Erg lelijke woorden. In mijn pleitrede, voor de Nederlandse rechter, heb ik daar iets over gezegd.
Doordat we de geschiedenis lazen kregen we een ander beeld van de werkelijkheid. We lazen de geschiedenis van de Oost-indische Compagnie en van het Cultuurstelsel enzovoort. De Nederlanders waren zuiver uit eigenbelang hierheen gekomen.
Komentar
Posting Komentar