[caption id="" align="aligncenter" width="1000"]
Picture: https://www.bukalapak.com[/caption]
Picture: https://www.bukalapak.com[/caption]
Semua upaya ini tidak akan berhasil. Bagaimana mungkin musuh akan berlaku adil terhadapmu, dan bagaimana kau berharap ia akan melindungimu dari berbagai musibah yang ia ciptakan untukmu? Tidak ada gunanya..!
Shiddiq, Hal.130
__________________
Judul: Mariama
Juduk Asli: Tsulatsiyah Gharnathan
Penulis: Radwa Ashour
Terbit Mesir: Kairo, 2003
Terbit Indonesia: 2009
Penerbit: Buku Mutu
Tebal: vi + 271 halaman
__________________
Kami sudah tidak kuat lagi. Ya Allah, kami sudah tidak kuat lagi. Mengapa Engkau timpakan segala bala cobaan ini pada kami? Apakah kami meminta terlalu banyak dari Mu? Hamba tidak meminta pangkat maupun harta. Hamba hanya memohon agar mata hamba tercelaki, dan masih dapat melihat anak-anak hamba kembali sebelum meninggal dan dikubur dengan prosesi sebagaimana yang Engkau Syari’atkan; dimandikan, dikafani, dan dibacai ayat-ayat Mu di depan khalayak. Mengapa Engkau Bakhil, padahal Engkau Maha Pemurah? Mengapa Engkau begitu tiran, kejam, dan sewenang-wenang padahal Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?!
Mariama, hal. 166
Semula perempuan nan dikisahkan pada roman ini ialah perempuan remaja atau paling tidak ibu-ibu muda, demikianlah sangkaan kami tatkala membaca pada helai-helai pertama. Rupanya seorang nenek tua dengan suami lumpuh, dan seorang cucu yang masih kanak-kanak. Mariama demikian namanya.
Kamipun cukup heran dengan alur waktu pada cerita, sebelum atau sesudah genosida yang dilakukan oleh Isabella dan Ferdinand di Tanah Andalusia kah? Dan agaknya sang penulis lebih memilih memaksa kita untuk berfikir terlebih dahulu. Rupanya telah lima generasi semenjak kejatuhan Granada.
Roman ini mengisahkan perihal kehidupan masyarakat biasa di Granada tatkala proses peralihan agama dan budaya sedang berlangsung. Nama-nama Islam mulai ditinggalkan atau kalau tidak dicampur dengan nama Latin. Demikian juga dengan hijab, tulisan Arab, dan tentu sahaja Bahasa Arab sudah pasti dilarang.
Seluruh nestapa yang datang silih berganti dikisahkan dari sudut pandang rakyat jelata. Sekaligus kita diberitahu bagaimana kelakuan orang Keturunan Arab (Morisch) di Andalusia. Tuan nan penyuka sepakbola tentulah dapat melihat beberapa pesepak bila asal Spanyol memiliki kulit kecoklatan, hidung mancung, rambut hitam bahkan ada yang ikal, namun bernama latin. Ada juga beberapa orang bintang filem yang berasal dari Spanyol atau Amerika Latin yang berwajah dan fisik serupa demikian.
Ya, diantara keturunan Arab itu pada masa dahulu banyak yang berkhianat, mengkhianati agama dan leluhur mereka. Mengganti agama dan bahkan ikut menjadi kaki tangan orang-orang Castile[1] dalam memburu orang-orang Islam.
Anak laki-laki semata wayangku yang tampan memalingkan wajahnya ke arah kiblat Mu dan bertekad mengembalikan nama besar manusia pilihan Mu, berjihad sesuai dengan yang Engkau tentukan dalam Syara’ dan kitab Mu. Mengapa Engkau mengambilnya sementara langit Mu begitu ramai dengan nabi-nabi Mu, malaikat-malaikat Mu, dan orang suci? Mengapa? Katakan padaku mengapa Engkau berikan musuh-musuh kami buai kebanggaan dengan kemenangan dan mengapa Engkau tinggikan kebesaran mereka di atas puing-puing keterpurukan kami? Mengapa Engkau diamkan aku... Mengapa Engkau diamkan kami?
Mariama, hal: 167-168
Tatkala membaca roman ini, kami terkenang dengan Palestina, Mesir, Syiria, Irak, Afganistan, Turkistan, Rohingya, dan negeri-negeri Islam lain di belahan bumi yang sedang berkecamuk. Ya Allah, kenapa?
Dan kini kami terkenang dengan negeri tanah kelahiran kami, apakah nasib kami takkan serupa dimasa depan kelak? Bagaimanakah nasib ana-cucu kami kelak?
___________________________
Catatan Kaki:
[1] Nama Spanyol pada masa dahulu sedangkan Portugis bernama Aragon
Komentar
Posting Komentar