Murder on The Orient Express


Telah lama kami nanti-nantikan, akhirnya bersua jua dengan Tuan Penyidik[1] Hercule Poirot nan terkenal itu. Semenjak kuliah telah kami gemari kisahnya nan ditulis oleh Nyonya Agatha Christie. Berkat nyonya nan cerdik bukan main inilah – salah satunya – kami begitu menggemari kisah-kisah para penyidik. Karena membaca roman-roman beliau tersebut akhirnya kami tertarik mencari dan membaca kisah penyidik lain yakni Tuan Sherlock Holmes yang kisahnya dikarang oleh Tuan Arthur Conan Doyle.

Berlainan dengan Tuan Sherlock nan filemnya telah kami tonton, Tuan Poirot belum sama sekali. Akhirnya kisahnya nan berjudul “Pembunuhan di Orient Express” kembali difilemkan. Sebelumnya kami telah mendengar bahwa kisah tersebut telah pernah difilemkan namun setelah kami cari-cari tak bersua filemnya.
Pada filem nan dibuat ulang ini kami dapati serupa apa itu kumis Tuan Poirot nan amat terkenal itu. Katanya kepalanya bulat telur namun kami dapat tak jua, tapi tak mengapa. Demikian pula dengan badannya nan konon kabarnya pendek dan gemuk, tapi tak pengapa pula.
Tuan Poirot selain terkenal karena kehebatan sel abu-abu dalam otaknya dia juga dikenal sebagai orang yang menjunjung tinggi kerapian dan keteraturan. Matanya akan berbulu apabila melihat hal-hal yang tidak pada tempatnya dan dengan senang hati akan memperbaikinya. Dia juga memiliki kebiasaan tertentu yang tak boleh lupa, salah satu kebiasaannya yang terkenal ialah memelihara kumisnya nan lebat, meminyaki, dan memastikan kedua belah kumisnya itu seimbang (simetris).
Demikianlah perihal Tuan Poirot nan amat membuat kami ingin tahu, selamat menontont filemnya. Semoga engku, rangkayo, serta encik dapat terpuaskan rasa ingin tahunya.
_______________
Catatan Kaki:
[1] Detektif

Komentar