Pukat itulah judul roman kedua dari Pujangga Tere Liye, pada Catatan Pengarang yang terletak paling akhir ia menerangkan kalau keempat roman ini bukanlah roman berseri namun kami sarankan kepada pembaca nan berkeinginan menikmati kisah nan disampaikan oleh Sang Pujangga dalam romannya ini hendaknya membaca keempat roman sedari nan pertama (Roman pertama: Burlian). Sebab beberapa kisah saling berkaitan bahkan sang pujangga memberi catatan kalau kisah terkait sudah disampaikan pada roman pertama.
Roman kedua mengambil judul dari anak kedua yang merupakan anak lelaki pertama dalam keluarga Engku Syahdan yakni Pukat. Berlainan dengan adiknya nan lincah tak berketentuan, suka berbuat sesukanya, maka Pukat ialah anak nan terlahir dengan Logika berfikir yang realistis. Pintar, pandai mencari tahu apa nan tiada dapat diketahui, namun kepayahan memahami nan tersurat. Ia gemar menghitung, menghubung-hubungkan, dan kemudian menelaah kesemua hal nan didapatinya.
Kanak-kanak serupa Pukat ini banyak terdapat, terkadang bagi orang tua nan tiada memahami dan mengetahui potensi anaknya, anak serupa ini dipandang kurang ajar dan tiada hendak patuh. Membutuhkan waktu yang lama untuk menyentuh hatinya, kesabaran dan cintalah yang akhirnya membuat luluh hati sang anak. Dan tentu saja, sang orang tua mesti sabar dan bijak dalam memahami dan mengajar sang anak.
Sang Pujangga telah mengajari engku dan rangkayo dengan baik dalam roman ini bagaimana cara membesarkan anak serupa Pukat ini. Sebab salah-salah mendidik, si anak dapat terjerumus ke dalam pemahaman yang salah serta anggapan yang keliru perihal diri, keluarga, masyarakat, agama, dan bangsanya. Itulah nan kebanyakan berlaku pada masa sekarang, karena ketiadaan pengajaran, contoh, serta teladan yang baik maka bukannya menjadi tiang penyangga bangsa dan agama justeru sebaliknya, meruntuhkan.
Namun kami lebih salut lagi kepada kedua orang tua Pukat dan Burlian, mereka pandai dan tahu cara mendidik anak. Bak kata orang nan pernah kami dengar “Membuat anak itu gampang, membesarkan mereka itu nan payah..” payah tak hanya dari segi lahiriah melainkan bathiniah. Kalaulah pada masa dahulu binatang nan bernama HAM itu sudah ada tentulah Engku Syahdan dan Rangkayo Nur sudah dikandangkan. Beruntunglah kanak-kanak nan dibesarkan dengan kesusahan dan didikan nan keras. Bak kata orang kampung kami “Sayang kepada anak dilecuti..” berlainan dengan orang sekarang nan berlaku ialah sebaliknya.
Sungguh pandai sangat engku Tere Liye mengarang, sangat banyak pelajaran nan dapat diambil dan dijadikan amalan dalam menjalankan kehidupan. Dunia kanak-kanak benar-benar dikuasainya, tentulah beliau ini akan menjadi ayah nan hebat bagi anak-anaknya.

Komentar
Posting Komentar