
Entah kenapa akhir-akhir ini kami terkenang dengan drama seri Si Doel Anak Sekolahan, pernah sekilas melihat drama ini kembali ditayangkan oleh stasiun tivi yang dahulu menayangkan drama ini. Lagu temanya, suara para tokoh, dan yang lebih membuat kami terpikat ialah suasana tahun 1990an.
Entah kami atau tuan jua demikian, bagi kami beberapa barang tertentu yang berasal dari masa silam dimana kita memiliki kenangan mendalam padanya dapat menjadi semacam pintu gerbang (portal) yang dapat membawa kita kembali kemasa silam. Dalam hal ini tidak hanya barang atau benda namun dapat berupa produk budaya tertentu semacam drama seri ini.
Bagi kami, drama seri ini dapat membawa kami kembali ke masa akil balig kami di akhir tahun 1990an. Suatu masa nan kami rindukan pada satu sisi dan ratapi pada sisi nan lain. Masa-masa menonton tivi merupakan kebiasaan/ godaan nan tak dapat ditingalkan. Duduk bersama keluarga di hadapan tipi pada malam hari dengan penerangan seadanya sebab mesti menghemat pemakaian listrik dikarenakan arus listrik untuk tipi itu sangat besar.
Kami tiada ingat setiap hari apa saja drama itu diputar, kami pernah menonton drama ini pada Sabtu malam, ada juga pada Kamis malam. Pernah entah pada Jilid (musim) berapa diadakan kuis di akhir penayangan drama tersebut. Kini kami tiada tahu apakah masih ada kuis semacam itu diadakan orang, sudah semenjak lama kami insyaf dan tak lagi duduk-duduk di hadapan tipi tiap malam.
Kami terkadang berfikir “Tidak terlalu tuakah Si Dul dan kawan-kawannya untuk mahasiswa semester akhir?”
Mereka lebih cocok apabila memerankan lelaki menikah dengan seorang atau dua orang anak serta keluarga kecilnya. “Bukankah itu hanyalah lakon belaka..” jawab kami kemudian.
Bercakap perihal nasib Si Sul selepas kuliah, agaknya itu benar-benar menggambarkan keadaan pada masa itu dan masih terus berlanjut hingga ke masa sekarang. Orang tua yang teramat menyayangi anaknya, anak yang menyelesaikan kuliah dengan segala pahit getirnya, hanya untuk menjadi orang yang tersingkirkan dalam kehidupan. Apalagi pada masa sekarang, tentulah lebih berat lagi karena pekerja asing dimudahkan saja masuk ke negeri ini.
Orang tua yang tetap berlapang hati dengan nasib anaknya dan terus berdo’a demi kebaikan mereka. Segera kami terkenang dengan kedua orang tua kami.
Kami juga terkenang beberapa orang anak muda masa kini yang telah menuai kejayaan begitu cepat dan suka memamerkannya di jejaring sosial. Disaat kawan-kawan seumurannya masih bergelut dengan lowongan, atau gaji yang pas-pasan, sebaliknya para jahanam ini memamerkan oto[1] mewah, onda[2] sport, rumah megah, isteri cantik na kuning langsat bak model, melancong dan pesiar, menginap di hotel mewah, atau berfoto dengan para pejabat tinggi.
Memang itu hak mereka, tapi ada kalanya tak perlu dipamerkan demi menjaga perasaan kawan nan masih berjuang dengan kejamnya kehidupan.
__________________
Catatan Kaki:
[1] Mobil
[2] Motor
[2] Motor
Komentar
Posting Komentar