Sudah lama kami menanti karena membuat hati ini penasaran dibuatnya, serupa apa kiranya filem yang mengisahkan salah seorang Dewa Kaum Nordik itu. Sangat menarik minat kami tatkala menonton filem pertama Dewa Patus[1], karena penjelasannya tentang sembilan dunia yang saling berhubungan. Yang kami fahami dalam menonton filem-filem ini bahwa kesembilan dunia itu masih berada di Alam Semesta yang maha luas ini. Hanya saja jarak mereka saling berjauhan sehingga tanpa bantuan teknologi yang canggih akan mustahil untuk mendatanginya.
Kisah Dewa Patus pada filem ini berlainan dengan kisah Kaum Nordik walau nama-nama dewanya masih sama. “Pengarang nan mengambil tokoh dewa ini tentunya memiliki khayalan tersendiri..” demikian inti dari beberapa ulasan nan kami baca.
Dalam kisah Kaum Nordik Dewa Patus dan Dewa Penipu – yang merupakan pakcik dan kemenakan – saling bertikai dan berlawanan sampai Perang Akhir Dunia. Di filem mereka berdua ialah saudara angkat dan diperlakukan sama oleh ayah mereka Dewa Odin. Walau pada mulanya bertikai, akhirnya mereka saling membantu dalam menghadapi kakak tertua mereka Dewi Kematian. Sungguh senang hati melihat kedua kakak beradik ini mesra dan saling membantu.
Nan membuat kami sedih ialah bahwa Sang Dewa mesti kehilangan kampung halamannya Asgard,[2] dihancurkan oleh Sutur sesuai dengan nubuat yang telah disampaikan. Yang menarik bagi kami ialah pesan dari Odin “Asgar bukanlah sebuah tempat melainkan sebuah bangsa..” demikianlah kira-kira kalau kami tak salah ingat.
___________________
Catatan Kaki:
[1] Patus plesetan Bahasa Minangkabau Patu[i]h yang berarti Petir.
[2] Kami sangat senang sekali dengan gambaran Asgard dalam filem Dewa Patus ini, benar-benar alami dan menenangkan. Memang patut dijuluki syurga.
[2] Kami sangat senang sekali dengan gambaran Asgard dalam filem Dewa Patus ini, benar-benar alami dan menenangkan. Memang patut dijuluki syurga.
Komentar
Posting Komentar