Aladdin - 2019


Judul: Aladdin
Sutradara: Guy Ritchie
Skenario:  John August, Guy Ritchie
Pemain: Will Smith, Naomi Scott, Mena Massoud, Navid Negahban, Marwan Kenzari, Nasim Pedrad, Nurman Acar
Produksi: Walt Disney Studios, Rideback
Distributor: Walt Disney Studios ,Motion Pictures
Peluncuran: 8 May 2019 (Grand Rex, Prancis) & 24 Mei 2019 (Amerika)
Durasi: 128 menit

____________________________________

Aladdin, sebuah filem produksi Disney yang terkenal semenjak kami kanak-kanak dahulu. Konon kabarnya diambil dari kisah 1001 malam yang merupakan hikayat terkenal dari padang pasir. 

Kisah Aladdin[1] sendiri seperti yang kita ketahui bukan karya asli peradaban Barat jadi Hollywood bukanlah satu-satunya nan membuat filem Aladdin. Di Indonesia sendiri pernah dibuat filem tentang Aladdin yang dibintangi oleh Rano Karno dan Lydia Kandou. Dan kalau tuan pernah menontonnya maka akan banyak menemukan perbedaan dengan versi Amerika.


Selain itu banyak versi dari cerita ini yang beredar di internet seperti yang ditulis oleh Faris Nugraha di laman Kompasiana. Dan kami yakin masih banyak versi lain yang berbeda satu sama lain. Namun filem yang dibuat oleh orang barat ini mesti kita tonton dengan hati-hati, terutama bagi umat muslim. Kita mesti memiliki padanan agar kritis dan tidak dengan mudah menerima setiap alur cerita. Karena filem merupakan salah satu alat propaganda yang sangat efektif dalam mencuci otak setiap orang nan menontonnya. Karena ada kekuatan besar disebalik itu semua.

Karena dibuat oleh Hollywood maka jangan harap akan ada sentuhan Islam pada filem ini. Terjadi banyak perubahan, salah satunya perubahan tabi'at sang putri yang bernama asli Badr al Budur[2]. Sebagai seorang muslimah ia merupakan gadis yang sopan, santun, lemah lembut, beretika, dan ta'at. Namun di filem Amerika ia digambarkan sebagai seorang gadis penuh gairah, bergelora, pemberontak, dan penganut feminis.

Filem kali ini diproduksi tahun 2019, kami tak begitu mengenal para bintangnya kecuali satu orang yakni Wil Smith. Berlainan dengan cerita nan pernah kami baca dan filem yang dahulu sekali pernah kami tonton, filem ini dimulai dengan cara yang berbeda. Yakni melalui kisah seorang ayah kepada sepasang anaknya di atas kapal.

Dari beberapa tulisan nan kami baca terdapat perbedaan yang cukup besar dari segi cerita dengan filem sebelumya. Walau kami tak melakukan penyidikan dengan baik namun nan kami rasakan memang demikian. Misalnya bandar Bagdhad yang diganti namanya menjadi Agrabah, Khalifah yang bertukar menjadi Sulthan, Aladdin yang sebatang kara padahal punya ibu, dan tidak adanya istana yang dibangun oleh jin untuk Aladdin, dan Ja'far yang menurut kami terlalu muda, serta keberadaan pangeran walau dungu namun baik hati dari Eropa.

Menarik hati kami, dari sekian banyak pelakon utamanya rupanya hanya dua orang yang memiliki darah Eropa yakni Pangeran Anders yang diperankan Billy Magnusens - dimana tokoh ini setahu kami tak pernah ada dan baru muncul di filem produksi 2019 - dan Naomi Scott yang memerankan Putri Jasmin yang merupakan separuh India separuh Inggris.

Para pelakon yang lain seperti Will Smith yang berdarah Afrika memerankan Jin, Aladdin yang diperankan Mena Massoud merupakan Penganut Krsiten Koptik Mesir yang telah menjadi warga negara Kanada, Ja'far diperankan oleh pelakon dari Tunisia yang bernama Marwan Kenzari, Sulthan diperankan oleh Navid Negahban pelakon berdarah Persia yang telah menjadi warga negara Amerika, Hakim yang merupakan panglima tentara diperankan oleh pelakon asal Turki nan bernama Nurman Acar, dan Dalia yang merupakan dayang Jasmin diperankan pelakon Amerika keturunan Persia nan bernama Nasim Pedrad.

Disatu sisi sang pembuat berusaha membangun ulang suasana dimasa keemasan Islam namun disatu sisi justeru dikecilkan dimana Sulthan yang rupanya hanya menguasai satu kota sahaja, yakni kota dimana sekarang ia berkuasa. Dengan daerah lain ia bertetangga dan menjalin hubungan baik.

Terus terang kami merasa, orang Barat sana masih kepayahan membedakan antara Arab, Persia, & India. Karena kami lihat dari segi pakaian Putri Jasmin dan tatkala mereka menari bersama lebih menyerupai budaya India.

Kemudian salah satu yang membuat kami kesal ialah tatkala Ja'far memaksa Jasmin untuk menikah dengannya, cara pernikahan mereka tidak mencerminkan cara yang disyari'atkan dalam Islam. Walau kami mencoba dengan sabar memahami bahwa setiap produk budaya memiliki pesan terselubung, namun tetap susah untuk dimaklumi.

Dan kini ada nan lebih mengesalkan lagi, riuh rendah tulisan nan mengulas filem ini mengatakan bahwa Aladdin bukanlah kisah asli Padang Pasar melainkan dari Negeri Tirai Bambu. Wah kok serupa ya dengan keadaan dengan nan berlaku di republik ini pada saat ini..


Baca juga: https://whitedaffodilss.blogspot.com 
____________________________

Catatan Kaki:
[1] Aladdin merupakan pelafasan Barat terhadap kata 'Ala ed Dien, Dien sendiri berarti agama. Lihat lebih lanjut: Mundi Rahayu, dkk. Pergeseran Nilai Nilai Islam dalam Cerita AladdinPerbandiangan "Arabian Nights" dan Filem Animasi Disney. Pasca Sarjana UGM. Atau silahkan klik disini untuk mengunduh.

[2] Badr al Budur adalah nama aslinya atau ada yang menyebutkan sekadar perumpamaan atas kecantikannya nan tak terkira. Arti dari namanya ialah purnama dari purnama. Lihat juga: https://en.wikipedia.orgwiki/Badroulbadour Barat/ Hollywood mengubah namanya menjadi Jasmine yang berarti Melati.

Komentar