Seri keempat ini mengisahkan tentang hasrat berkuasa nan semakin membara, kecemburuan karena takut ditinggalkan, tipu muslihat dari penguasa, dan muslihat baru nan mulai berjalan. Seorang pemimpin, seorang prajurit, yang cendikia, para penghasut, para penjilat, dan lain sebagainya.
Takut dengan jati diri asli dari Jhon yang sesungguhnya ialah keponakanya sendiri, Daenarys memaksa Jhon agar berjanji untuk merahasiakan jati dirinya. Tidak boleh ada matahari kembar. Walau Jhon telah berjanji dan mengakui dirinya sebagai ratu, tampaknya Ibu Para Naga itu tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Apalagi pelindung utamanya Sir Jorah telah gugur dalam pertempuran semalam.
Daenary tetap memaksa untuk menggerakan pasukannya ke selatan, walau Sansa telah meminta tangguh guna memberi masa kepada para prajurit mereka untuk beristirahat dari perang nan menguras tenaga. Namun dengan congkak Daenarys menolaknya sekaligus menagih janji untuk memberikan dukungan padanya untuk merebut tahta. Sansa sempat bersikeras, demikian juga Arya namun Jhon angkat bicara dalam rapat tersebut dan membela Daenarys.
Akhirnya Jhon meminta adik laki-lakinya Bran agar memberitahu kedua saudari mereka perihal jati dirinya nan sebenarnya. Hal ini terpaksa dilakukan karena kedua perempuan muda ini sedang mengamuk akibat keputusan Jhon yang mereka anggap sewenang-wenang dan dungu.
Sansa yang gemas dan pekat darah Utaranya memberi tahu Tyrion Lannister yang merupakan Tangan Kanan Ratu tentang kebenaran keturunan laki-laki satu-satunya dari Targaryen. Hal mana membuat Tyrion terguncang dan memaksa ia memberitahu Varys, rekan sesama abdinya.
Dalam pertempuran pertama, satu ekor naga Daenarys berhasil dibunuh oleh Euron dengan menggunakan senjata terbaru. Tak hanya naga yang dibunuh melainkan sebagian besar pasukan Unsulind juga menjadi korban. Nan paling menyakitkan ialah Missandei, salah seorang penasehat Daenarys berhasil ditawan oleh Cersei dan kemudian dipengal kepalanya dihadapan mata mereka semua.
Ya, dan gambaran kekuasaan sebenarnya diperlihatkan disini. Bagaimana seorang yang tengah berkuasa menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan agar tetap ditangan. Dikelilingi oleh orang-orang yang penuh muslihat, tak berhati, dan penuh siasat dalam diri mereka. Tak pernah memikirkan rakyat, yang ada di kepala mereka ialah mempertahankan agar kekuasaan agar tetap ditangan.
Ada pula Tuan Puteri nan terbuang nan menuntut tahta atas nama keluarga, namun lupa bahwa kekuasaan tak semata perkara menunduk dan berlutut, melainkan juga perkara hati. Dari semula telah tampak benih-benih lalim pada dirinya.
Kemudian seorang Pangeran yang terbuang, menolak tahta dan berjuang demi rakyat yang dipimpinnya. Semua ditempuh demi menjaga kepentingan orang banyak. Serupa apapun pilihan nan ada, walau tidak disukai oleh rakyat yang dipimpinnya, akan diambilnya. Namun orang serupa ini acap membuat gemas.
Nan berkuasa acap lupa
Disangka awak nan terkuat
Padahal rapuh tak berbilang
Disangka awak nan terkuat
Padahal rapuh tak berbilang
Komentar
Posting Komentar