GOT 8 - Episode.6 - The Iron Throne


Setelah menanti sepekan akhirnya muncul jua seri keenam yang merupakan seri terakhir sekaligus sebagai penutup seluruh musim Seri Permainan Tahta. Seperti apakah akhirnya? Bagaimana caranya Daenarys Targaryen dapat dihentikan?
Melanjutkan kisah seri sebelumnya, pemandangan kehancuran Bandar Raja diperlihatkan, mayat-mayat yang sebagian besar rakyat kecil bergelimpangan diantara reruntuhan bangunan. Hanya manusia nan tak memiliki hatilah nan tak merasakan apa-apa.
Inilah akibat keserakahan akan tahta, inilah akibat kepongahan dan kecongkakan dari sebagian kecil orang nan memiliki kekuasaan di tangan mereka. Enteng bagi mereka, namun berat bagi rakyat kecil tak yang tak tahu apa-apa.

Jhon Snow, Sir Bravos, Tyrion, dan Arya Stark memandangi dengan tatapan putus asa tak berdaya. Pucuk pimpinan tak berada di pundak mereka, yang berkuasa kini rupanya semakin haus akan darah. Dengan dalih membebaskan rakyat dari tekanan penguasa maka segala tindakan tak berkemanusiaan dibenarkan dan dianggap tak apa-apa.
Dendam dan amarah telah menyelimuti hatinya, sehingga sekeras apapun suara takkan terdengar oleh telinganya nan pekak itu.
Jhon nan selalu membela sang ratu tengah berkecamuk hatinya. Di satu sisi kekejian dan kengerian nan didapatinya tak dapat diterima oleh hatinya nan bersih itu. Disisi lain kesetiaan pada Sang Ratu membuat ia pening kepala. Apalagi tatkala kawan sedang menanti waktu untuk dihukum mati.
Maka dengan segala kepedihan, dengan menekan rasa kasih dan sayang atas perempuan nan dicintainya, ia putuskan mengambil tindakan terakhir. Menikam jantung Sang Ratu Naga yang teramat dicintainya dengan tangannya sendiri. Hanya itulah satu-satunya cara mengakhiri perang nan tak berkesudahan ini.
Namun untung, ia tak diadili secara membabi buta oleh pengikut Snag Ratu. Pertama Drogon Sang Naga yang meluapkan kemarahannya dengan melelehkan Singasana Besi dengan nafas apinya. Ya wajar, dalam darah Jhon mengalir darah Targaryen, kini ia menjadi satu-satunya Targaryen yang tersisa. Kedua Unsulid memenjarakan dirinya dan membawa perkara tersebut ke hadapan Majelis Para Tuanku.
Majelis Para Tuanku yang diisi oleh para Tuanku nan menguasai tujuh negeri di Barat, semula berpolemik. Akhirnya atas saran Tyrion hendaknya mereka memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi raja. Mereka tak dapat memutuskan karena mereka sendiri bingung siapa diantara mereka nan tepat untuk menjadi raja.
Tyrion kemudian menyarankan agar Brandon Stark dijadikan raja. Ia beralasan bahwa Brandon merupakan seorang yang berfikiran luas, menguasai sejarah tujuh negeri, dan memiliki kebijaksanaan yang melebihi mereka semua untuk memimpin negeri-negeri Barat. Tyrion juga mengusulkan agar raja berikutnya tidak dipilih berdasarkan garis keturunan melainkan pemilihan serupa yang akan mereka lakukan.
Enam orang Tuanku menerima Brandon sebagai raja dengan gelar Brandon Yang Lumpuh sedangkan negeri utara yang dipimpin Kakaknya Sansa menolak untuk kembali berada di bawah jajahan. Kami terkejut dengan keputusan Sansa namun tidak heran mengingat sejarah panjang dan pengalaman menyakitkan Negeri Utara selama ini ditambah kekerasan tabi’at dan watak orang-orangnya.
Tyrion ditunjuk oleh Brandon sebagai Tangan Kanannya sedangkan Jhon setelah melewati perundingan yang pelik akhirnya diputuskan untuk kembali ke tembok besar sebagai Penjaga Malam. Arya memutuskan untuk tak kembali utara melainkan akan menyusuri negeri di sebelah barat Negeri Barat.
Akhirnya seri keenam yang merupakan penutup dari kedelapan seri Permainan Tahta menunjukkan Starks merupakan dinasti sesungguhnya yang berkuasa di Negeri Barat. Brandon menjadi Raja Enam Kerajaan, Sansa menjadi Ratu Utara, Jhon menjadi Raja Orang-orang Bebas, dan Arya panglima muhibah ke Barat.
Kami tak tahu apakah akan berkata senang atau puas dengan seri terakhir ini atau dengan khatamnya seri Permainan Tahta. Ada yang hilang rasanya..

Komentar