Telah lama filem nan satu ini mengendap dalam cakram keras[1], setiap melihat selalu berat untuk menontonnya. Sampailah beberapa saat nan lalu, tatkala kami tengah melakoni perangai pegawai pemalas. Disaat semestinya bekerja, kami malah menonton filem. Lagi pula tuan, tak ada pekerjaan nan mesti dilakukan.
Kami cukup heran tatkala mulai menonton filem nan satu ini. Pada penampakan pertama terkesan bukan filem Islami. Namun agaknya, alur dan tokoh utama dari filem ini telah berhasil menahan kami untuk tetap menatap layar komputer.
Seorang lelaki nan suka hura-hura, memiliki perempuan nan teramat suka akan dirinya[2] namun diabaikannya. Dari alur filem nan maju mundur ini akhirnya kita tahu kenapa sampai Mada (demikian namanya) tak begitu hirau dengan perempuan nan begitu sayang, perhatian, rela berkorban demi dirinya.
Cinta, ya cinta..
Ia pernah hampir menikah namun si anak daro lari sebelum akad diucapkan. Itulah nan membuat kami gemas dengan filem ini, tak dikisahkan penyebab si anak daro lari. Hingga kini kami masih penasaran..
Rupanya rasa sakit itu menyebabkan ia menjadi menyalahkan Sang Khalik. Mada yang dahulunya rajin shalat dan tak pernah meninggalkan ajaran agama akhirnya berbalik menjadi seseorang yang hidupnya jauh dari ajaran agama.
Namun, Allah Ta’ala masih sayang akan dirinya. Melalui mimpi-mimpi nan dialaminya serta jalan hidup yang dilaluinya sesungguhnya membuktikan kalau Allah sedang mengajari hambanya nan satu ini.
Kematian sang ayah telah membuat ia terguncang, pembunuhan tak sengaja terhadap salah seorang preman di Thailand telah menyebabkan ia mesti keluar dari negeri itu, pergi menuju Vietnam.
Dari Vietnam perjalannya dimulai, akhirnya tiba dengan cara nan sama sekali menggelikan di Yunan. Dirawat oleh keluarga muslim yang juga merupakan imam di masjid negeri di sana. Putri Sang Imam[3] yang agaknya jatuh hati padanya menjadi kawan tempat ia berkisah.
Berbagai kisah dijalaninya hingga akhirnya ia sampai di Mekah, tempat pertama yang ditujunya ialah tempat pemakaman jama’ah haji nan meninggal. Disana ia meratapi kesalahannya karena telah marah dan meninggalkan Sang Ayah.
Harus kami akui, kami menyukai filem ini. Terkenang kami dengan kisah salah seorang ulama besar di kampung kami yang juga melakoni hal nan sama hampir seratus tahun nan silam. Berangkat haji ke Mekah hanya dengan berjalan kaki melalui Tanah Semenanjung[4], sempat sakit di Pakistan hingga berhasil menunaikan hajadnya.
Kami terkejut tatkala mendengar nama tokoh utamanya “Mada” mengingatkan kami pada salah seorang Wazir Akbar [5] pada salah satu kerajaan di Pulau Seberang dahulunya. Dalam Bahasa Minangkabau Madaberarti keras kepala, tak hendak mendengar perkataan orang lain, dan berkepala batu. Agaknya cocok dengan tokoh utamanya.
Nan membuat kami lebih kagum lagi ialah lakon para pemain pembantu seperti, sepasang kakek dan nenek di Vietnam dan Imam di Yunan yang sangat alami. Tak ada kesan kaku ataupun dibuat-buat.
Kami juga suka sangat dengan musik latar nan mengiringi setiap adegan filem. Tontonlah filem ini tuan, bagus sangat..
___________________________
Catatan Kaki:
[1] Hardisk
[2] Kami terkejut mendapati Laudya Cinthia Bella belum berhijab pada filem ini. Namun kami maklum disaat menyadari filem ini dibuat pada tahun 2014.
[3] Diperankan oleh salah seorang artis dari republik ini yang setahu kami beragama Nasrani.
[4] Semenanjung Malaysia
[5] Perdana Menteri
[2] Kami terkejut mendapati Laudya Cinthia Bella belum berhijab pada filem ini. Namun kami maklum disaat menyadari filem ini dibuat pada tahun 2014.
[3] Diperankan oleh salah seorang artis dari republik ini yang setahu kami beragama Nasrani.
[4] Semenanjung Malaysia
[5] Perdana Menteri
Komentar
Posting Komentar