The Magnificent Seven


Alkisah tersebutlah sebuah negeri nan bernama Muara Mawar, negeri tersebut rupanya kaya akan bahan tambang. Datanglah seorang saudagar nan melakukan penambangan disana dan berkeinginan untuk membeli semua tanah nan ada disana.
Saudagar itu amat kaya, memiliki pasukan tersendiri, dan beberapa orang pemuka disana sudah dikuasainya terutama Panglima Hulubalang. Ia memaksa semua penduduk menjual tanah mereka dengan harga murah. Barang siapa nan menolak maka akan dibunuh.

Suatu malapetaka tiba disuatu hari tatkala para penduduk sedang bermufakat di dalam gereja mereka. Si saudagar dengan angkuhnya masuk mendobrak pintu gereja dan memaksa hendak biacara. Dibawah acungan senjata anak buahnya, semua penduduk tak berkutik.
Tanah, ini bukan lagi tanah, saat aku menaruh pin di peta. Saat aku dikirim Tuhan ke lembah ini, aku menatapnya maka yang tampak tanah dan akan menjadi debu.
(Bartholomew Bogue. The Magnificent Seven, 2016)
Tanah penduduk dihargai rendah, tiga kali lipat dibawah harga nan sebenarnya. Merekapun menolak dan segera mendapat jawapan. Ditendang keluar dari gereja, gereja mereka dibakar, dan beberapa orang dibunuh saat itu juga.
Penduduk sendiri terpecah kepada beberapa sikap, ada nan menolak dan menyarankan melawan, dan ada nan memutuskan menerima karena takut dan hijrah dari kampung mereka. Tapi tidak begi seorang perempuan muda nan jelita, suaminya mati dibunuh di hadapan matanya pada hari itu.
Si perempuan muda nan menjadi janda diusia muda memutukan mencari pertolongan. Berbekal uang nan ada pada dirinya ia berharap menemukan beberapa orang bayaran yang dapat menolong dirinya serta penduduk kampungnya mempertahankan tanah mereka.
Singkat cerita ia bertemu dengan seorang pemburu bayaran nan semula menolak namun setelah mendengar kisah nan menimpa kampung Muara Mawar akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ia kemudian mencari anggota lain yang akan dapat membantu perjuangannya itu. Seorang penjudi dan penipu, seorang pembunuh bayaran yang terkenal tak pernah luput sasarannya bersama seorang kawannya yang jago melempar pisau, seorang pembunuh yang diincarnya namun ditawari kebebasan, seorang pembunuh yang terkenal karena telah membunuh banyak Indian, serta seorang pemuda Indian yang jago memanah.
Bersama Emma – demikian nama janda jelita itu – mereka datang kembali ke kampung Muara Mawar. Membunuh semua prajurit bayaran si saudagar dan melepaskan satu orang, Panglima Hulubalang yang telah dibeli kesetiannya. Ia disuruh menyampaikan pesan kepada si saudagar.
Melihat para prajurit bayaran itu telah dibantai, penduduk yang ketakutan itupun keluar dari rumah mereka. Emma menjelaskan tujuan kedatangan mereka namun beberapa orang penduduk yang ketakutan berkata “Kami tak pernah meminta mu membawa mereka kesini..!!” yang lain berteriak “Mereka akan datang lagi kesini dan membantai kita semua..!!”
Sungguh menyedihkan melihat mental beberapa orang sudha dikalahkan oleh ancaman dan ketakutan. Untung tujuh orang pemberani ini (ditambah satu orang janda jelita pemberani) bukan orang nan mudah patah arang.
“Jika kalian hendak pertahankan, maka harus kalian perjuangkan..!!” demikian kata Sam Chilsom pemimpin tujuh orang ini.
Akhirnya sebagian penduduk memutuskan untuk pergi. Adapun yang tinggal bahu membahu dengan penyelamat mereka membuat pertahanan karena serangan balasan akan segera tiba.
Ketujuh orang ini bukan siapa-siapa, mereka tak memiliki urusan dengan Kampung Muara Mawar yang sedang dijajah. Mereka juga para pemabuk dan pembunuh, bahkan beberapa diantara mereka merupakan buronan pemerintah. Namun, ketujuh orang ini berkumpul disini untuk memberikan kebebasan dan keadilan yang telah dirampas dari penduduk Muara Mawar.
Mereka menyadari, mereka semua menyadari bahwa esok mereka belum tentu akan hidup, esok mereka akan mati. Namun mereka tak gentar dengan itu semua, tak ada kata mundur untuk setiap perjuangan.
Keesokan harinya terbukti, banyak nan mati namun mereka semua berhasil membunuh para penjajah dengan persenjataan lengkap ke negeri mereka. Anak-anak mereka dapat hidup dengan tenang dan damai kini.
Si saudagar akhirnya mati di dalam gereja yang dibakarnya, masih sempat ia berkata “Membunuhku takkan memberimu kepuasan seperti yang kau inginkan..”
Namun dalam hati kami menjawab “Ya benar, tapi kematian mu akan mendatangkan kedamaian bagi negeri ini..”
Apapun kehidupan mereka, disini pada akhirnya, semua orang berdiri dengan berani dan terhormat. Mereka bertempur untuk mereka yang tak dapat mempertahankan diri, dan mereka juga gugur untuk mereka. Semua itu untuk memenangkan sesuatu yang bukan milik mereka. Itu sungguh, Gagah Berani..

Komentar