Encik Rahma el Yunusiah
Jangan sampai timbangan ditukar para pedagang
Jalan ditukar oleh orang yang melalui*
Terkenang masa kanak-kanak dahulu, aneh melihat perempuan memakai rok pendek atau sekadar memakai pakaian rumah ke luar dari rumah mereka. Itu bagi perempuan muda atau ibu-ibu muda. Baju lengan pendek terkadang tampak ketiak, berdada rendah demikian juga belakangnya sehingga tampak kuduk (tengkuk) dan punggung bagian atas. Itu bagi perempuan nan sok moderen "maju tak lagi bodoh,." kata mereka
Adapun nenek kami dan perempuan tua lainnya selalu memakai baju kurung dan kodek kain sarung jawa (batik) di keseharian. Dalam ataupun luar rumah sama sahaja. Kepala mereka selalu ditutupi tingkuluak (kerudung). Beberapa orang perempuan muda di kampung kami juga memakai baju kurung. Sebagian ada yang memakai tingkuluak, sebagian lagi menjadikan kain panjang nan sehelai itu (tingkuluak/kerudung) sebagai selendang, dan sebagian nan lain tidak sama sekali.
Yang paling terkenang ialah anak sekolah, masa itu untuk sekolah umum, murid perempuan tak boleh memakai hijab mesti memakai rok singkat dan baju lengan pendek. Namun ada beberapa orang murid yang radikal (istiqamah menjalankan ajaran agama) memakai hijab. Kalau tak salah, pada pas foto tetap harus membuka hijab mereka itu.
Berlainan dengan murid sekolah agama yang memang diwajibkan berhijab. Namanya lilik yang merupakan hijab khas Minangkabau yang dipopulerkan oleh Rahma el Yunusia dan dikenal dengan nama "Lilik Encik Rahmah" oleh orang Melayu. Apabila ada murid perempuan nan ketahuan memakai jilbab maka akan disuruh tukar pulang dan selepas itu mendapat hukuman dari guru.
Masa itu kami heran apa beda lilik dengan jilbab? kenapa jilbab dilarang? bukankah sama-sama menutup aurat?
Hingga kini kami masih belum dapat jawapannya.
Murid perempuan di sekolah umum (SMP atau SMA) menggunakan jilbab. Kalau tak salah kawan perempuan kami pernah berujar "Jilbab, memakainya lebih muda. Sedangkan lilik lebih payah.."
Masa itu pula kami dapati beberapa orang perempuan Melayu yang memakai sanggul dan kebaya. Kalau tak salah mereka ialah perempuan yang bersangkutan dengan pemerintah. Baju kebaya yang mereka pakai ketat dan tembus pandang sehingga tampak tali kutang mereka membayang, tak berhijab, memakai sepatu bertumit tinggi, dan diatas ubun-ubun kepala mereka ada semacam rambut palsu serupa mangkuk yang menancap padanya dua buah jarum besar. Kata orang itu ialah sanggul dan konde.
Aneh-aneh sahaja..
Orang kampung kami tak ada nan berpakaian serupa mereka kecuali perempuan nan suaminya bekerja di pemerintahan. Ada jua beberapa orang perempuan nan meniru cara mereka berbusana namun tak banyak dan mereka hilang akal sendiri hendak memakai kebaya, sanggul, dan konde ke acara apa sahaja. Karena di kampung kami apabila ada alek (kenduri) atau sejenisnya, kaum perempuan akan memakai baju kurung dan kerudung.
Penutup kepala sudah menjadi adat di negeri kami - dan kami yakin di negeri tuan demikian pula - baik itu kaum lelaki ataupun perempuan. Kaum lelaki di negeri kami selalu memakai kopiah (peci), dari nan kecik (kecil) hingga yang tua, sedangkan kaum perempuan memakai tingkuluak. Namun kebiasaan kaum lelaki sudah banyak berkurang dan boleh dikata sudah hilang, hanya kaum perempuan yang setia dengan pakaian mereka.
Namun hari ini, perjuangan kaum perempuan di negeri kami mempertahankan adat negeri mendapat hantaman. Beberapa orang di Pulau Seberang yang telah miring otaknya berkata bahwa "Itu bukan budaya nusantara.."
Cis, mungkin yang dimaksudkannya dengan "budaya nusantara" itu ialah budaya negerinya di pulau itu. Mungkin demikian adat perempuan disana namun di negeri kami, amatlah malu seorang perempuan memperlihatkan anggota tubuhnya terkecuali muka dan telapak tangan. Oleh karena itulah disini dikenal tingkuluak atau ada jua nan menyubut karuduang (kerudung).
Ah, adat negeri kami pula nan hendak ditukarnya..
______________________________________
*Ungkapan Minang, aslinya:
Jan sampai timbangan dituka urang panggaleh
Jalan dialiah urang lalu
Copas dari: Catatan St. Nagari
Komentar
Posting Komentar