Musim Bunga

  Picture: https://www.123rf.com[/caption]

Apabila bercakap perihal bunga maka fikiran kita akan selalu mengarah pada perempuan. Ya, perempuan memang suka sekali dengan bunga. Menanam di halaman, di dalam pot, atau mereka juga suka membuat bunga dari kertas sebagai hiasan. Beberapa perempuan nan tak berhijab menggunakan bunga sebagai hiasan rambut, pada masa dahulu, kini mereka sudah memiliki peralatan yang lebih indah, kekinian, dan mahal.

Demikianlah, dahulu..

Kini banyak rumah tak berhalaman dan tak hanya perempuan, lelakipun suka menanam bunga. Kami punya kenalan seorang lelaki yang gemar sekali dengan bunga sehingga selepas kuliah ia jadikan sebagai mata pencaharian. Kaya raya ia sekarang.

Entah siapa nan memulai, namun kami yakin berawal dari media sosial. Menanam bunga tiba-tiba menjadi candu. Serupa dengan kami masa kanak-kanak dahulu, ada musimnya. Kalau kini yang musim ialah bermain alang-alang. Dan bagi Kaum perempuan sedang musim menanam bunga, bahkan ada satu jenis bunga yang sangat digemari sehingga harganya melambung tinggi.

Ada beberapa jenis bunga yang menjadi idaman kaum perempuan yakni Monstera Adansonii & Monstera Obliqua. Kawan perempuan di kantor bahkan ada nan bertanya kepada kami kalau memmilikinya.

Kami heran, bunga buruk macam itu suka pula mereka. Daunnya berlubang seperti habis dimakan ulat, kami tak dapat melihat dari segi mana hingga bunga itu tampak indah. Kami yakin ini semua hanya permainan beberapa orang sahaja. Sihir moderen memang menakjubkan, mereka dapat membuat orang-orang memandang indah yang terlihat buruk, memandang baik pada yang jahat, dan menghalalkan segala nan diharamkan.

"Zaman kini orang suka memelihara bunga yang biasa tumbuh di perak-perak itu tuan.." seru adik perempuan kami tergelak.

Ya, sepekan nan silam kami dapati seorang kawan kantor mengemasi lumut sisa pembersihan. Kami heran dengan tingkah lakunya "Untuk ditaruh di taman rumah.." ujarnya. Kami tergelak karena biasanya sakit kepala memikirkan itu lumut hendak diapakan karena tak bisa langsung dibakar.

Beberapa hari nan silam kami berselisih dengan seorang perempuan yang sibuk mematahkan dan mencabuti bungai yang ditanam oleh orang kampung di tepi jalan "Kepada siapakah mereka minta izin itu?" tanya kami dalam hati. Kami yakin tidak, tidak ada sama sekali. Demikianlah adat orang sekarang, bini orang bini awak. Sawah tak berpematang..

Copas dari: Catatan St.Nagari


Komentar